BEBERAPA PENGERTIAN DALAM ETIKA
PROFESI
Pengertian Etika dan Etika Profesi Kata etik (atau
etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter,
watak kesusilaan atau adat. Sebagai
suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu
ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan - tindakan yang telah
dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.
Etika adalah refleksi dari apa yang disebut
dengan "self control",
karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan
dari dan untuk kepentingan kelompok social itu sendiri.
Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat
"built-in mechanism"
berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain
melindungi masyarakat dari
segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan
keahlian
Sebuah profesi hanya dapat memperoleh
kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut
ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan
jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya
1.2 Etika dan
Estetika
Etika disebut juga filsafat moral adalah
cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak
mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus
bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma.
Norma ini masih
dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan
santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundangundangan, norma agama
berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan
santun berasal dari kehidupan sehari-hari
sedangkan norma moral berasal
dari etika.
1.3 Etika dan
Etiket
Etika (ethics)
berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun.
Persamaan antara etika dengan etiket yaitu:
Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia.
Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena
binatang tidak mengenal etika maupun
etiket.
Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif
artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa
yag harus
dilakukan dan apa yang tidak
boleh dilakukan. Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering
dicampur adukkan
Perbedaan antara etika dengan
etiket
1.
Etiket
menyangkut cara melakukan perbuatan manusia.
Etiket menunjukkancara yang tepat artinya cara
yang diharapkan serta ditentukan dalamsebuah kalangan tertentu.Etika tidak
terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika member norma tentang
perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh
dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
2.
Etiket
hanya berlaku untuk pergaulan.
Etika selalu berlaku walaupun
tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam
harus dikembalikan walaupun
pemiliknya sudah lupa
3.
Etiket
bersifat relatif.
Yang dianggap tidak sopan dalam
sebuah
kebudayaan, dapat saja dianggap
sopan dalam kebudayaan lain.
Etika jauh lebih absolut. Perintah
seperti “jangan berbohong”, “jangan
mencuri” merupakan prinsip etika
yang tidak dapat ditawar-tawar.
4.
Etiket
hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika
memandang manusia dari segi
dalam.
Penipu misalnya tutur
katanyalembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiketnamun
munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik
karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap
etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.
1.4 Etika dan
Ajaran Moral
Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral
memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada
sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus
hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan
tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia.
Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan
ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral.
Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis,
mendasar, sistematik dan
normatif (tidak sekadar
melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang
sebenarnya).
Etika dan Agama
Etika
tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat
untuk memberikan orientasi moral.
Pemeluk agama menemukan orientasi
dasar kehidupan dalam agamanya.
Akan tetapi agama itu memerlukan
ketrampilan etika agar dapat
memberikan orientasi, bukan sekadar
indoktrinasi. Hal ini disebabkan
empat alasan sebagai berikut:
1. Orang agama mengharapkan agar
ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas
mendengar bahwa Tuhan
memerintahkan sesuatu, tetapi ia juga ingin
mengerti mengapa Tuhan
memerintahkannya. Etika dapat membantu
menggali rasionalitas agama.
2. Seringkali ajaran moral yang
termuat dalam wahyu mengizinkan
interpretasi yang saling berbeda
dan bahkan bertentangan.
3. Karena perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka
agama menghadapi masalah moral
yang secara langsung tidak disinggung singgung dalam wahyu. Misalnya bayi
tabung, reproduksi manusia dengan
gen yang sama.
4. Adanya perbedaan antara etika
dan ajaran moral. Etika mendasarkan diri
pada argumentasi rasional
semata-mata sedangkan agama pada wahyunya
sendiri. Oleh karena itu ajaran
agama hanya terbuka pada mereka yang
mengakuinya sedangkan etika
terbuka bagi setiap orang dari semua agama
dan pandangan dunia.